Toksikokinetik Dan Toksikodinamik Formaldehid

0
20
Formaldehida merupakan senyawa organik dengan rumus CH2O. Ini ialah aldehida yang paling sederhana, maka nama sistematis metanal. Formaldehida ditemukan oleh kimiawan Rusia Aleksander Butlerov (1828-1886) dan meyakinkan diidentifikasi dengan Agustus Wilhelm von Hofmann. Formaldehida ialah gas tidak berwarna dengan bau, besar lengan berkuasa pedas. Hal ini biasanya dipakai dalam bentuk cair sebagai larutan 40% dikenal sebagai formalin dan dalam bentuk padat sebagai paraformaldehyde. 
Formaldehid tidak bewarna, dalam bentuk gas gampang meledak dalam temperatur ruangan, mempunyai amis yang tajam dan menyengat, dan bisa menimbulkan sensasi terbakar pada mata, hidung, dan paru‐paru pada konsentrasi tinggi. Formaldehid dikenal pula  sebagai metanal, metilen oxida, oksimetilen, metilaldehid, dan oksometan. 
Formaldehid sanggup bereaksi dengan banyak sekali materi kimia lainnya, dan terpecah menjadi metanol (alkohol kayu) dan karbon monooksida pada temperatur yang sangat tinggi. Formaldehid
diproduksi secara alami dalam jumlah yang sangat kecil dalam tubuh sebagai potongan dari metabolisme tubuh dan hal itu tidak membahayakan. Dapat pula ditemukan dalam udara yang kita hirup di kantor, rumah, dalam masakan yang kita makan, dan dalam produk‐produk yang kita oleskan pada kulit kita.
Sumber terbesar formaldehid yang kita hirup setiap hari berasal dari lapisan terbawah atmosfir bumi. Sedangkan di rumah, formaldehid dihasilkan dari rokok dan produk‐produk rokok lainnya dan kompor gas. Formaldehid tersebut juga dipakai sebagai materi pengawet pada beberapa masakan dan beberapa jenis keju Italia, masakan kering, dan ikan. Formaldehid ditemukan dalam produk‐produk yang kita pakai sehari‐hari di rumah menyerupai antiseptik, obat, kosmetik, cairan pencuci piring, pelembut kain, pembersih karpet, lem dan perekat, kertas, plastik, dan beberapa jenis produk‐produk kayu.
Formaldehid dipakai dalam banyak sekali industri, menyerupai dalam produksi pupuk, kertan, plywood, dan resin urea‐formaldehid, juga terdapat dalam udara pada industri penempaan baja. Pada industri pertanian, formaldehid dijumpai pada pupuk dan bibit tanaman. Pada industri baja, ditemukan dalam produksi lateks, pewarnaan kulit, pengawetan kayu, dan produksi film fotografi. Juga dipakai di banyak sekali rumah sakit dan laboratorium untuk mengawetkan spesimen jaringan.
2.1.TOKSIKOKINETIK
2.1.1. Absorbsi
Bentuk larutan gas formaldehid sanggup terhirup melalui kanal pernapasan. Akibat metabolisme cepat membentuk formate, sedikit, jikalau ada, intak formaldehid sanggup ditemukan dalam darah insan yang terpapar formaldehid. Begitu pula sanggup diserap oleh kanal pencernaan. Pada semua kasus, absorbsi tampaknya hanya terbatas pada lapisan sel pada titik kontak, dan jaluru masuk ke dalam darah (absorbsi sistemik) terjadi sangat minimal.
Formaldehid ialah molekul kecil, reaktif, dan larut air, dengan berat molekul sebesar 30.03, dimana sanggup diabsorbsi dalam jaringan kanal pernapasan (pajanan inhalasi) dan kanal pencernaan. Absorbsi melalui kanal pernapasan diperkirakan hampir mendekati 100%, yang terjadi di mukosa hidung (Casanova‐Schmitz et al.1984a; Casanova et al.1991; Heck et al. 1982,1983) dimana terjadi terutama pada mukosa hidung anterior pada tikus (Chang et al.1983). Formaldehid juga tampaknya diserap cepat sehabis terjadi pajanan oral pada tikus (Galli et al.1983). Absorbsi melalui kulit monyet tampaknya cukup lambat (hanya sekitar 0.5% takaran yang diberikan); dimana sebagian besar hilang Melalui Penguapan Ataupun Diserap Ke Dalam Kulit (Jeffcoat 1983).

2.1.2. Distribusi
Distribusi ke organ‐organ yang jauh menyerupai ginjal, lemak, limpa, dll tampaknya bukan merupakan faktor utama toksisitas formaldehid. Heck et al. (1983) menemukan bahwa pada tikus, 14C‐formaldehid yang terhirup (8 ppm dalam 6 jam) meningkatkan konsentrasi radioaktivitas dalam darah tikus sehabis beberapa hari terpapar (waktu paruh 55 jam).
2.1.3. Metabolisme
Formaldehid sangat cepat dimetabolisme dan penyimpanan bukanlah faktor toksisitas formaldehid. Metabolisme formaldehid membentuk format (melalui formaldehid dehidrogenase / alkohol dehidrogenase kelas III) mempunyai tugas pada setiap jaringan tubuh sebagai konsekwensi dari deretan endogen formaldehid, dan formate ini cepat dibuang keluar tubuh (Heck et al.1982).
Formaldehid dehidrogenase ialah enzim metabolik utama yang terlibat dalam metabolisme formaldehid pada semua jaringan yang diteliti; dan terdistribusi merata pada jaringan hewan, khususnya pada mukosa hidung tikus, dan spesifik untuk aduksi glutation formaldehid.
2.1.4. Eksresi
Konversi formaldehid yang cepat menjadi format , tampaknya ekskresi bukanlah menjadi faktor toksisitas formaldehid. Metabolisme membentuk format berperan di dalam setiap jaringan tubuh sebagai jawaban deretan endogen formaldehid. Sedangkan formaldehid eksogen masuk jalur tersebut dan di ekskresi dalam bentuk CO2.

BACA JUGA:  Hati Hati Kecanduan Kerja/Workaholism, Pengertian Dan Cara Mengatasinya

II.2. TOKSIKODINAMIK
2.2.1. Efek pada Pernapasan
Hasil pada beberapa studi terhadap insan dan binatang mengindikasikan bahwa kanal pernapasan atas merupakan sasaran kritikal dari formaldehid yang terdapat di udara dalam konsentrasi antara 0,4 – 20 ppm. Studi pada insan dengan pajanan terkontrol menunjukkan pajanan jangka‐pendek ke dalam konsentrasi udara berkisar antara 0,4 – 3 ppm mengakibatkan iritasi ringan mata, hidung, dan tenggorokan.

2.2.2. Efek pada Kardiovaskular
Telah terdapat beberapa penelitian mengenai efek pada kardiovaskular menyerupai hipotensi (Burkhart et al.1990; Eells et al.1981), kolaps sirkulasi (Freestone and Bentley 1989), dan sinus takikardia (Kochhar et al.1986) jawaban menelan formaldehid takaran tinggi. Namun masih belum terperinci bagaimana formaldehid sanggup menginduksi gejala‐gejala tersebut atau jikalau ada faktor‐faktor luar yang menyertainya, tampaknya bekerjasama dengan takaran besar formaldehid yang tertelan dalam waktu yang singkat.
Pada tikus ditunjukkan 5‐25% terjadi peningkatan tekanan dara, dibandingkan dengan nilai istirahat, dalam responsnya terhadap pemberian takaran formaldehid antara 0,5‐5mg/kg (Egle dan
Hudgins 1974). Secara jelas, takaran intravena 20 mg/kg secara signifikan menurunkan tekanan darah sekitar 30% dan menginduksi transient cardiac arrest.

2.2.3. Efek pada Saluran Pencernaan:
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Appelman et al.1988; Kamata et al.1997; Kerns et al.1983b; Maronpot et al.1986; Monticello et al.1989; Woutersen et al.1987, formaldehid tidak menjadikan efek yang berarti pada kanal pencernaan sehabis menelan formaldehid tersebut, dan hanya efek nonspesifik menyerupai kram perut dan flatus yang terjadi sehabis terpapar formalin atau resin fenol‐formaldehid (Kilburn 1994).
Bila terjadi pajanan akut dalam takaran besar, lesi bisa ditemukan dalam orofaring berupa ulcer dan atau nekrosis dari palatum molle dan struktur phalangeal, ulcer epiglotis, dan lesi esofagus (mengakibatkan disfagia) (Freestone dan Bentley 1989; Kochhar et al.1986). tanda klinis vagus lain berupa muntah (dengan ataupun tanpa disertai muntah berdarah) dan sakit abdominal atau kram perut juga terjadi pada beberapa masalah (Burkhart et al.1990; Eells et al.1981).
2.2.4. Efek pada Hematologi:
Kasus koagulopati intravaskular pernah dilaporkan terjadi pada seorang laki-laki yang telah menelan takaran formaldehid yang besar (Burkhart et al.1990); namun pada laporan yang lain mengenai pajanan yang kecil melalui oral tidak menimbulkan efek apapun pada sistem darah (Eells et al. 1981; Freestone and Bentley 1989; Kochhar et al. 1986; Koppel et al. 1990). Sebuah studi mengenai pajanan oral pada tikus percobaan yang meminum air sebagai mediator formaldehid dengan takaran 82‐150mg/kg/hari, tidak menimbulkan efek apapun.
2.2.5. Efek pada Sistem Hepatik
Pernah dilaporkan terjadi efek pada hepar menyerupai kongesti parenkim hati dan peningkatan serum enzym bekerjasama dengan kerusakan hati pada insan dengan keracunan akut formaldehid (Freestone and Bentley 1989; Koppel et al.1990). Peningkatan insidens vakuolisasi hepatoselular terjadi pada tikus percobaan dengan takaran 80 mg/kg/hari selama 4 ahad (Vargova et al.1993).
Namun studi lain tidak menemukan perubahan pada berat hati ataupun histopatologinya pada tikus percobaan yang terpapar takaran setinggi 150 mg/kg/day for 90 days (Johannsen et al. 1986), 125 mg/kg/hari selama 4 ahad (Til et al.1988b), 82–109 mg/kg/hari selama 2 tahun (Til et al. 1989), dan 300 mg/kg/hari selama 2 tahun (Tobe et al. 1989).
Peningkatan acara enzim mengindikasikan kerusakan hati pernah dilaporkan terjadi pada tikus yang terpapar dengan takaran konsentrasi udara sebesar 35 ppm selama 18 jam (Murphy et al.1964) atau 20 ppm 6 jam/hari, 5 hari/minggu selama 13 ahad (Woutersen et al.1987).
2.2.6. Efek pada Ginjal
Data yang tersedia mengatakan bahwa sistem renal bukanlah sasaran organ utama pajanan toksisitas formaldehid. Gagal ginjal / anuria yang terjadi pada 3 laporan masalah yang melibatkan mereka yang tertelan formaldehid dalam jumlah sangat besar ataupun yang tidak diketahui jumlahnya (Eells et al. 1981; Freestone and Bentley 1989; Koppel et al.1990). Mekanisme agresi induksi gagal ginjal tersebut masih belum jelas. Kasus nekrosis papiler pernah dilaporkan terjadi pada tikus percobaan yang mendapatkan 82‐109 mg/kg/hari dalam air minum selama 2 hari (Til et al.1989), dan meningkatkan nitrogen urea darah pada tikus yang mendapatkan takaran 300 mg/kg/hari pada air minumnya selama 12 bulan (Tobe et al.1989).
2.2.7. Efek pada Kulit:
Formaldehid dikenal secara luas sebagai materi iritan kulit dan biro sensitisasi kulit. Test Patch untuk sensitisasi kulit akan formaldehid telah dilakukan pada takaran 1‐2% larutan karena, untuk kebanyakan individu, pajanan akut pada konsentrasi tersebut tidak menimbulkan tanda-tanda iritasi non‐imun (seperti eritema, indurasi, dan bisul). Peningkatan bencana dermatitis kontak atau dermatitis kontak alergi yang bekerjasama dengan pajanan kulit terhadap larutan formaldehid telah diteliti pada pekerja jasa pemakaman (Nethercott dan Holness 1988) dan diantara pekerja medis (Rudzki et al.1989).
2.2.8. Efek pada Mata:
Iritasi mata merupakan keluhan tersering pada mereka yang terpajan formaldehid melalui
udara. Pada masalah akut dalam studi pajanan terkontrol, bencana iritasi mata ringan sampai sedang pada konsentrasi tingkat‐rendah antara 0,4‐4 ppm; pada takaran mendekati puncaknya, semakin besar persentasi mereka yang mengalami iritasi mata (Akbar‐Khanzadeh and Mlynek 1997; Akbar‐Khanzadeh et al. 1994; Bender et al. 1983; Day et al. 1984; Gorski et al. 1992; Kulle 1993; Kulle et al.1987; Schachter et al. 1986; Weber‐ Tschopp et al. 1977; Witek et al. 1986, 1987).
Sebagai tambahan, studi survey mengatakan peningkatan rata‐rata masalah iritasi
mata pada group mereka yang terpajan berulang kali di rumah ataupun kawasan kerja, dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar (Garry et al. 1980; Holness and Nethercott 1989; Horvath et al. 1988; Ritchie and Lehnen 1987).
2.2.9. Efek pada Metabolik:
Metabolik asidosis diamati pada pasien yang menelan takaran tunggal formaldehid dengan takaran besar (>500mg/kg) (Burkhart et al.1990; Eells et al.1981; Koppel et al.1990). Produksi metabolik formate yang cepat pada tingkat takaran tinggi ini tampaknya memegang peranan terjadinya asidosis yang telah diamati.
2.2.10. Efek pada sistem tubuh lainnya:
Penurunan konsumsi masakan dan minuman telah diteliti pada binatang yang terpajan takaran oral formaldehid sebesar 100mg/kg/hari (Johannsen et al.1986; Til et al.1989; Tobe et al.1989). Dan penurunan konsumsi masakan ini sanggup menurunkan pula berat badan, yang biasanya terjadi pada mereka yang terpajan secara kronik.

BACA JUGA:  Kuesioner / Daftar Periksa Audit Sistem Administrasi Kesehatan Kerja (SMK3)

IV. EFEK TOKSISITAS FORMALDEHID

Studi mekanistik menunjukkan bahwa respon karsiongenik terhadap inhalasi formaldehid secara kronik pada tikus percobaan berdampak kerusakan non‐neoplastik pada epitelium kavitas hidung, yang mendukung hipotesis bahwa kanker terinduksi formaldehid akan terjadi hanya pada tingkat pajanan yang sangat tinggi (Monticello et al.1996).

IV.1. Genotoksisitas
Menurut Yager et al.1986, terdapat bukti peningkatan ringan limfosit perifer pada pajanan 0,73‐1,95 ppm selama 10 minggu. Penelitian lainnya mengatakan peningkatan deretan micronuklei pada pekerja kayu (Ballarin et al.1992) dan peningkatan bencana terjadinya ketaknormalan kromosom pada makrofag paru‐paru tikus percobaan (Dallas et al.1992).
Formaldehid juga telah diketahui menginduksi aberasi kromosom (Dresp dan Bauchinger 1988; Natarajan et al.1983), meningkatkan deretan mikronukleus (Ballarin et al.1992). Intensitas insidens tersebut mengatakan bahwa formaldehid mempunyai kemampuan untuk beraksi eksklusif dengan DNA.

IV.2. Toksisitas pada Organ Reproduksi
Formaldehid dalam jumlah yang sedikit tidak bisa menimbulkan toksisitas pada organ reproduksi. Tidak ada efek pada jumlah maupun morfologi sperma yang ditemukan pada subjek yang terpajan formaldehid (Ward et al.1984), dan peningkatan angka keguguran tidka ditemukan diantara mereka yang terpajan (Garry et al.1980). Studi terhadap hasiljadi reproduksi pada group pekerja terpajan formaldehid mengatakan bahwa formaldehid mempunyai efek toksisitas yang kecil terhadap organ reproduksi.

IV.3. Toksisitas pada Efek Perkembangan
Hasil dari studi terhadap insan dan beberapa binatang mengatakan bahwa formaldehid tampaknya tidak mengakibatkan toksisitas pada perkembangan tubuh insan ataupun binatang percobaan pada tingkat pajanan yang rendah. Tidak ada kemaknaan yang berarti diantara bencana berat lahir rendah dan tingkat udara ambien formaldehid diantara grup ibu‐ibu yang tinggal di beberapa distrik perumahan yang berbeda. Tidak ada maut embrio ataupun efek teratogenic yang ditemukan pada studi pajanan‐gestasional tikus percobaan yang terpajan konsentrasi udara sampai 40 ppm (Martin 1990; Saillenfait et al.1989).

BACA JUGA:  Medical Check Up Mencakup Investigasi Apa Saja?

IV.4. Imunotoksisitas
Sensitisasi kulit pada insan sudah diketahui dengan baik dari hasil‐hasil tes Patch pada klinik‐klinik kulit di seluruh dunia (Fischer et al.1995; Kiec‐Swierczynska 1996; Maibach 1983; Marks et al. 1995; Meding and Swanbeck 1990; Menné et al. 1991). Respon alergik yang berat jawaban formaldehid, bagaimanapun juga, tampaknya jarang terjadi; hanya satu masalah respon anafilaktik berat yang pernah terjadi (Maurice et al.1986).
Relevansi penemuan‐penemuan tersebut akan kemungkinan sensitisasi kanal pernapasan terhadap formaldehid masih belum sanggup dipastikan sebab peningkatan IgE tidak bekerjasama dengan jumlah dan tingkat ancaman suatu gejala, dan gejala‐gejala tersebut lebih mengindikasikan respon iritan dibandingkan dengan respon tipe‐asma yang dimediasi melalui antibodi IgE.

IV.5. Neurotoksisitas
Sistem saraf bukanlah sasaran organ yang utama paparan toksik formaldehid, walaupun gejala‐gejala neurologis vagal sanggup saja terjadi, menyerupai sakit kepala, kepala terasa berat, dan peningkatan waktu reaksi (Bach et al.1990). Killburn dan kolega, melaporkan bukti bahwa terjadi tanda-tanda neurologis dan gangguan performance pada tes neurobehavioral pada beberapa pekerja yang terpajan formaldehid.