Kecelakaan Kerja Di Perusahaan

0
12

Tingkat keparahan cedera pada Kecelakaan Kerja di perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang diidentifikasi sanggup kuat pada tingkat keparahan cedera yaitu:

a. Usia
Dumrak, J et al (2013) mengungkapkan bahwa peningkatan usia secara eksklusif terkait dengan tingkat keparahan kecelakaan. Proporsi tertinggi cedera berat dan kritis terjadi pada kelompok usia 40-49 (sekitar 30%). Proporsi tertinggi kecelakaan fatal terjadi pada kelompok usia 50-59 (hampir 35%). Trauma pada usia renta lebih parah dibandingkan dengan yang terjadi pada usia muda. Menurut Frickmann et al. (2012) pekerja yang lebih renta cenderung mengalami kecelakaan yang lebih parah. Beberapa penelitian di atas menegaskan bahwa pekerja yang berusia lebih renta lebih rawan mengalami kecelakaan fatal dan parah.
b. Pengalaman Kerja
Cheng et al. (2012) dan Im et al. (2009) mengkonfirmasi bahwa pekerja dengan pengalaman kurang dari satu bulan sangat rentan terhadap kecelakaan di perusahaan. Sebuah studi oleh Teo et al. (2005) menemukan pembinaan untuk menjadi cara yang efektif untuk mencegah kecelakaan kerja di industri, terutama bagi mereka yang gres saja bergabung. Menariknya, pekerja berpengalaman cenderung lebih secara umum dikuasai mengalami cedera serius dibandingkan pekerja baru. Rameezdeen dan Ratnasabapathy (2007) mengkonfirmasi fenomena ini dan menyimpulkan bahwa pekerja yang berpengalaman sering mengabaikan ancaman lantaran kepercayaan dirinya yang mangatakan bahwa ancaman itu tidak akan terjadi pada saya.
c. Jenis Kelamin
Analisis data mengkonfirmasi kekerabatan antara gender dan keparahan cedera, dimana wanita cenderung mengalami cedera yang lebih parah. Dumrak belum menjelaskan wacana hasil analisis ini. Namun, penelitian lain telah mengatakan bahwa pekerja wanita kurang terwakili di antara kecelakaan pada umumnya dan mereka mempunyai konsekuensi yang fatal dan parah (Cheng et al 2012; Lopez et al 2008).
d. Faktor bahasa
Menurut untuk Menzel dan Gutierrez (2010) bahasa dan komunikasi dianggap sebagai faktor berkontribusi terhadap risiko kecelakaan kerja. Dalam penelitian Dumrak, pekerja konstruksi dengan kemampuan bahasa Inggris yang jelek lebih berisiko mengalami kecelakaan lantaran mereka tidak sanggup memahami pembinaan dan petunjuk keselamatan yang disediakan dalam bahasa inggris. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pekerja yang berbahasa selain bahasa Inggris yang sangat terwakili di antara kecelakaan kritis, dalam penelitiannya didapatkan bahasa secara statistik bekerjasama dengan tingkat keparahan kecelakaan (x2= 31,645; df = 5; p <0,001)
e. Ukuran Perusahaan
Fabiano et al. (2004) dan Chi et al. (2005) mengidentifikasi bahwa pekerja berpengalaman dan mereka yang bekerja untuk perusahaan yang lebih kecil yang ditemukan berisiko lebih besar mengalami fatality. Analisis statistik mengatakan kekerabatan yang signifikan antara ukuran organisasi dan tingkat keparahan cedera (x2= 1234.215; df = 10; p <0,001) dimana pekerja di perusahaan kecil ditemukan mengalami tingkat keparahan cedera yang lebih besar dibandingkan pekerja di perusahaan menengah dan besar.

BACA JUGA:  Fungsi Rehabilitasi Medik Terhadap Penyakit Dan Cacat Akhir Kerja

f. Mekanisme kecelakaan
Dumrak, J et al (2013) membuktikan cedera ringan dan sedang lebih sering bekerjasama dengan prosedur ‘disambar’ (‘struck by’). Sedangkan cedera serius dan berat kebanyakan disebabkan lantaran karena cara mengangkat yang salah dan membawa beban yang terlalu berat. Fatality berkaitan dekat dengan prosedur kecelakaan yang melibatkan peralatan, kendaraan dan sengatan listrik. Jatuh dari ketinggian itu ialah salah satu penyebab utama kecelakaan kritis.
Jackson & Loomis, 2002; Kartam & Bouz, 1998; Haslam et al 2005 menekankan bahwa jatuh dari ketinggian ialah penyebab utama kematian. Arquillos (2012) menemukan bahwa hilangnya kontrol mesin dan terjun dari ketinggian secara umum dikuasai menjadikan cedera serius, sangat serius dan fatality pada kecelakaan konstruksi di Spanyol.

g. Lokasi Tubuh yang Cedera
Cedera pada tubuh (trunk) dikaitkan dengan kecelakaan serius, berat, dan kritis. Cedera pada organ internal, cedera multipel dan kepala secara umum dikuasai menjadikan fatality. Dumrak (2013) mengatakan terdapat kekerabatan yang signifikan secara statistik antara lokasi tubuh yang cedera dengan tingkat keparahan (x2 = 1189,832; df = 50; p <0,001). Arquillos et al. (2012) menyebutkan cedera paling berbahaya yang ditemukan diantaranya gegar otak (kepala), organ internal dan cedera multiple. Ling et al. (2009) menemukan bahwa selain beberapa luka-luka, kepala dan tubuh (trunk) ialah tempat yang paling rentan.
h. Aktivitas di Waktu Kecelakaan
Dumrak (2013) menyebutkan bahwa para pekerja di sub-sektor bangunan lebih terwakili dalam fatality yaitu 30%. Sedangkan dalam sub-sektor teknik sipil terutama menyumbang kecelakaan serius dan berat (masing-masing 80% dan 68%). Hasil analisis mengatakan kekerabatan yang signifikan antara jenis konstruksi dan tingkat keparahan cedera (x2 = 606,756; df = 20; p <0,001). Aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh korban pada ketika kecelakaan dianggap berperan dalam memilih tingkat keparahan. Sehubungan dengan pekerjaan, Dumrak menemukan Tukang kayu lebih terwakili dalam kecelakaan moderat; pekerja tidak terampil lebih terwakili dalam kecelakaan serius dan berat; mekanik dan operator plant lebih terwakili dalam kecelakaan fatal. Korban jiwa antara mekanik dan operator pabrik (12,5% dan 25%) yang hampir dua kali lipat dari representasi mereka di luka keseluruhan (6,3% dan 11,5% masing-masing).

i. Waktu Kecelakaan
Loudoun (2010) telah mengatakan bahwa ketika kecelakaan mempunyai dampak pada tingkat keparahan, Ia menyebutkan rasio tingkat cedera meningkat secara signifikan pada malam hari.55 Kines (2002) mengungkapkan bahwa janjkematian dikaitkan dengan periode sehabis makan siang.56 Lopez et al. (2011) mendeteksi fenomena serupa di Spanyol dan menyebutnya ‘efek waktu makan siang’. Di Singapura, kecelakaan paling fatal terjadi sekitar 09.30-11.30 WIB dan 02.30-03.00 pm (Ling et al. 2009). Hasil serupa untuk Amerika Serikat dilaporkan oleh Huang dan Hinze (2003) di mana sebagian besar kecelakaan konstruksi terjadi antara 10: 00-11: 00 di pagi hari dan 13: 00-14:00 di sore hari.

Demikian faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan pada Kecelakaan Kerja di perusahaan, dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut, diperlukan sanggup lebih memaksimalkan mitigasi sesuai dengan faktor resiko.