Kecelakaan Kerja, Definisi Ahli, Klasifikasi, Penyebab, Undang-Undang Dan Statistik

0
49
Kecelakaan Kerja
 Definisi
· Menurut ILO (Oktober1998) kecelakaan kerja adalah  suatu insiden yang tak terduga dan tidak terencana, termasuk violence (ruda paksa), yang timbul dari atau sehubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan satu atau lebih pekerja yang cedera, sakit atau mati. Termasuk sebagai kecelakaan kerja harus dipertimbangkan perjalanan, transportasi atau kecelakaan kemudian lintas di mana pekerja mengalami cedera, yang terjadi dikala perjalanan dari kawasan kerja, di kawasan kerja atau ke kawasan kerja, atau dikala menjalankan kiprah dari pemberi kerja.
· Menurut Pasal 1 angka 14  UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kecelakaan kerja yaitu kecelakaaan yang terjadi dalam kekerabatan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju kawasan kerja atau sebaliknya, dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.

· Menurut OHSAS 18001:2007 kecelakaan kerja didefinisikan sebagai insiden yang berafiliasi dengan pekerjaan yang sanggup mengakibatkan cedera atau kesakitan (tergantung dari keparahannya), insiden kematian atau insiden yang sanggup mengakibatkan kematian. Pengertian ini dipakai juga untuk insiden yang sanggup mengakibatkan kerusakan lingkungan. (Sumber : OHSAS 18001:2007).
kecelakaan kerja (image.google.com)
·Menurut Frank Bird, kecelakaan yaitu suatu insiden yang tidak dikehendaki, sanggup mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan harta benda dan biasanya terjadi sebagai jawaban dari adanya kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas atau struktur.
· Menurut Heinrich, Petersen dan Roos, 1980 “Kecelakaan kerja atau kecelakaan jawaban kerja yaitu suatu insiden yang tidak terencana dan tidak terkendali jawaban dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang atau radiasi yang mengakibatkan cedera atau kemungkinan jawaban lainnya”
Klasifikasi Kecelakaan Kerja
Pengklasifikasian insiden kecelakaan kerja di pabrik maupun kecelakaan kerja di perusahaan bertujuan untuk mengidentifikasi proses alami suatu kejadian, menyerupai dimana terjadinya kecelakaan, apa yang dilakukan oleh pekerja dan alat apa yang dipakai oleh pekerja sehingga mengakibatkan kecelakaan. Dengan menerapkan pengklasifikasian kecelakaan kerja ini, maka akan sangat membantu proses analisis dalam menginterpretasikan informasi-informasi yang di dapat. Adapun pengklasifikasian kecelakaan kerja yang telah dilakukan beberapa forum di dunia antara lain sebagai berikut :
Klasifikasi kecelakaan jawaban kerja berdasarkan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Tahun 1962
a. Klasifikasi berdasarkan jenis kecelakaan
Yaitu: terjatuh, tertimpa benda jatuh, tertumbuk atau terkena benda-benda, terjepit oleh benda, gerakan-gerakan melebihi kemampuan, imbas suhu tinggi, kontak dengan bahan-bahan berbahaya/ radiasi.
b. Klasifikasi berdasarkan penyebab
   i.   Mesin
   ii.  Alat angkut dan angkat
   iii. Peralatan lain
   iv.  Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi
    v.  Lingkungan kerja
   vi.  Penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan-golongan tersebut.
c. Klasifikasi berdasarkan letak kecelakaan / luka di tubuh
Yaitu: Kepala, leher, anggota atas, anggota bawah, banyak tempat, kelainan tubuh. Klasifikasi berdasarkan jenis kecelakaan dan penyebab mempunyai kegunaan untuk membantu dalam perjuangan pencegahan kecelakaan. Penggolongan berdasarkan sifat dan letak luka / kelainan badan mempunyai kegunaan untuk penelaahan perihal kecelakaan lebih lanjut dan terperinci.17
d. Klasifikasi kecelakaan jawaban kerja Berdasarkan Standar Australian AS 1885 1 (1990)
Standar Australian 1885 1 (1990) mengkasifikasikan kecelakaan kerja dengan komposisi sebagai berikut :
a.Jatuh dari ketinggian
b.Jatuh dari ketinggian yang sama
c.Menabrak objek dengan cuilan tubuh
d.Terpajan oleh getaran mekanik
e.Tertabrak oleh objek yang bergerak
f.Terpajan oleh bunyi yang tiba-tiba
g.Terpajan oleh bunyi yang lama
h.Terpajan tekanan yang bervariasi
i.Pergerakan berulang dengan pengangkatan otot yang rendah
j.Otot tegang lainnya
k.Kontak dengan listrik
l.Kontak atau terpajan dengan cuek atau panas
m.Terpajan radiasi
n.Kontak tunggal dengan materi kimia
o.Kontak jangka panjang dengan materi kimia
p.Kontak lainnya dengan materi kimia
q.Kontak dengan atau terpajan dengan faktor biologi
r.Terpajan faktor stress mental
s.Longsor atau runtuh
t.Kecelakaan kendaraan/mobil
u.Lain-lain mekanisme cedera berganda atau banyak.
Model Kecelakaan Kerja
Dalam proses terjadinya kecelakaan kerja di pabrik maupun kecelakaan kerja di perusahaan  terkait 4 unsur produksi yaitu People, Equipment, Material, dan Environment (PEME) yang saling berinteraksi dan tolong-menolong menghasilkan suatu produk atau jasa.

Kecelakaan sanggup terjadi lantaran kondisi alat atau material yang dipakai dalam bekerja. Alat dan material ada kemungkinan besar mempunyai kondisi yang berbahaya. Selain itu kecelakan juga sanggup disebabkan oleh lingkungan kawasan bekerja. Hal ini sanggup terjadi lantaran lingkungan kawasan bekerja yang tidak kondusif seperti, kebisingan, pencahayaan yang kurang, banyaknya asap atau abu dan bahan-bahan kimia yang bersifat toksik. Kemudian faktor terakhir yang sanggup mengakibatkan terjadinya kecelakaan yaitu orang/pekerja itu sendiri. Adanya human error pada perkerja yang mengakibatkan kecelakaan semakin sering terjadi. Berdasarkan teori Heinrich dikatakan bahwa insan mempunyai kecenderungan untuk melaksanakan kesalahan yang akan berasosiasi dengan faktor penyebab kecelakaan lainnya sehingga menimbulkan suatu kecelakaan.
Model kecelakaan penting dipelajari  untuk:

  • Memahami pembagian terstruktur mengenai sistem yang logis, objektif dan sanggup diterima secara universal. Dengan mengklasifikasikan sistem maka beberapa fenomena, insiden yang melatarbelakangi kecelakaan sanggup dikelompok-kelompokkan sehingga gampang dianalisis.
  • Model kecelakaan sanggup mempermudah identifikasi ancaman lantaran kerangka logiknya jelas. 
  • Model kecelakaan sanggup membantu pemeriksaan kecelakaan dan membantu cara-cara pengendaliannya.
BACA JUGA:  Pengendalian Hazard Benzene Di Oil Refinery Unit
Teori Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh banyak sekali faktor penyebab, berikut teori-teori  mengenai terjadinya suatu kecelakaan :  
a.Pure Chance Theory (Teori Kebetulan Murni)
Teori yang menyimpulkan bahwa kecelakaan terjadi atas kehendak Tuhan, sehingga tidak ada contoh yang terang dalam rangkaian peristiwanya, lantaran itu kecelakaan terjadi secara kebetulan saja.
b.Accident Prone Theory (Teori Kecenderungan Kecelakaan)
Teori ini beropini bahwa pada pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan, lantaran sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami kecelakaan kerja.
c.Three Main Factor (Teori Tiga Faktor)
Menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan peralatan, lingkungan dan faktor insan pekerja itu sendiri.
d.Two main Factor (Teori Dua Faktor)
Kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe condition) dan tindakan berbahaya (unsafe action).
e.Human Factor Theory (Teori Faktor Manusia)
Menekankan bahwa pada karenanya seluruh kecelakaan kerja tidak eksklusif disebabkan lantaran kesalahan manusia.
Jenis data pada kasus kecelakaan kerja
Sebuah laporan ILO memutuskan bahwa dalam sistem  pencatatan kecelakaan kerja , negara-negara harus mengumpulkan jenis berikut informasi sebagai berikut :
( a) informasi perihal perusahaan  :
     i.  lokasi
     ii. kegiatan ekonomi
     iii.ukuran (jumlah pekerja)
( b ) informasi perihal orang yang terluka :
     i.    jenis kelamin
     ii.   usia
     iii.  pekerjaan
     iv.   status pekerjaan
( c ) informasi perihal cedera :
       i.    apakah fatal atau non fatal
       ii.    jenis cedera
       iii.   bagian badan yang terluka
( d ) informasi perihal kecelakaan dan keadaannya
       · Jenis lokasi kecelakaan yaitu menyerupai kawasan kerja biasa, kawasan lain dalam perusahaan, diluar kawasan perusahaan 
       · Tanggal dan jam kecelakaan 
       
       · Modus cedera : bagaimana cara seseorang terluka oleh kontak fisik dengan benda atau objek yang mengakibatkan cedera, jikalau ada beberapa cedera, modus dari cedera paling serius harus dicatat
       · Benda  penyebab cedera : item, perantara, obyek atau produk yang kontak dengan korban dan mengakibatkan korban terluka. Jika ada beberapa cedera, benda/materi yang terkait dengan cedera yang paling serius harus dicatat .
       · Ketidakmampuan untuk bekerja dinyatakan dalam hari kalender absensi kerja
       · Shift (waktu mulai kerja dari orang yang terluka) dan jam dikala kecelakaan terjadi
       · Jumlah pekerja terluka dalam kecelakaan
     · Tempat kejadian: jenis kawasan di mana kecelakaan itu terjadi, menyerupai bidang produksi atau pembangunan, perdagangan atau pelayanan, pertanian atau jalan raya
      · Proses kerja yang dilakukan oleh orang yang terluka ketika kecelakaan itu terjadi. Hal ini yaitu cuilan dari tugas-tugas yang tercakup dalam kedudukan korban di perusahaan, menyerupai memperbaiki mesin, membersihkan wilayah kerja, mengelas, memperbaiki mesin dan lain-lain
       · Aktivitas spesifik korban dikala kecelakaan. Hal ini merupakan acara benar-benar sedang dilakukan oleh korban ketika kecelakaan itu terjadi, durasi kegiatan sanggup berkisar dari sangat pendek hingga panjang, mungkin berkaitan atau tidak dengan item atau objek, menyerupai menghidupkan mesin, mengoperasikan peralatan transportasi,  membawa beban atau aktifitas spesifik lain.
      · Penyimpangan yang mengakibatkan kecelakaan, apa yang terjadi dengan cara yang tidak normal, menyimpang dari cara kerja atau proses normal, menyerupai kehilangan kontrol mesin, jatuhnya orang, jikalau ada beberapa insiden saling terkait atau berturut-turut, yang terakhir harus dicatat
       · Badan materi yang berafiliasi dengan penyimpangan : alat, objek, elemen, produk, dll terkait dengan apa yang terjadi dengan cara yang tidak normal, menyerupai lantai, pintu, alat-alat tangan, mobile crane .
( e ) Mekanisme kecelakaan/ mode cedera : ini mengacu pada bagaimana cara seseorang terluka oleh kontak fisik dengan barang atau benda yang menyebabkannya cedera. Jika ada beberapa luka, modus yang mengakibatkan cedera yang paling serius harus dicatat.
Klasifikasi modus cedera antara lain :
· Kontak dengan tegangan listrik: orang tiba ke dalam kontak dengan listrik dan mendapatkan sengatan listrik atau terbakar.
· Kontak dengan suhu ekstrim: Orang mengalami panas yang ekstrim (misalnya dari sesuatu yang terbakar) atau cuek yang ekstrim (yang mengakibatkan radang dingin). Orang mungkin telah mengalami cedera bahkan tanpa menyentuh objek.
· Kontak dengan materi berbahaya: Penyebab cedera beberapa zat kimia atau zat biologis. Orang mungkin telah menghirups ubstansi melalui hidung atau mulut, mungkin dicerna melalui makan atau minum, atau dalam mata atau kulit mungkin telah kontak dengan itu materi berbahaya tersebut.
· Tenggelam, terkubur: korban tidak sanggup mengambil oksigen yang mengakibatkan mati lemas.
· Jatuh atau menabrak sesuatu: Orang itu bergerak (horizontal atau vertikal) sedangkan objek yang mengakibatkan cedera itu tidak bergerak (stasioner).
· Disambar sesuatu: obyek mengakibatkan cedera bergerak, tetapi orang yang cedera diam. Benda tersebut mungkin terbang di udara, jatuh dari kawasan yang tinggi atau berjalan atau berguling-guling di tanah.

kecelakaan kerja (image.google.com)

· Bertabrakan dengan sesuatu : keduanya baik orang maupun  objek yang mengakibatkan cedera dalam keadaan bergerak. Dalam hal ini bisa bergerak dalam arah yang berlawanan maupun arah yang sama, pada dikala terjadi kecelakaan.
· Kontak dengan elemen tajam /runcing / kasar: ada alasan yang terang lain cedera kecuali kenyataan bahwa benda itu tajam, runcing, berangasan atau kasar.
· Terjebak, hancur: kekuatan pendorong dari obyek atau mesin yang menjadi penyebab cedera. Korban tertangkap di dalam, diperas, tergencet sesuatu atau hancur oleh obyek atau mesin penyebab cedera
· Menderita overloading akut tubuh: Hal ini mengacu pada kasus yang parah lantaran pembebanan otot, sendi dan organ/jaringan yang berlebihan. Termasuk juga jawaban mengangkat, mendorong atau hazard fisika (seperti: kebisingan, radiasi, gesekan,dan lainnya) yang melebihi daya tahan tubuh.
· Menerima tendangan, gigitan, pukulan yang disebabkan oleh manusia, hewan atau serangga. Termasuk disengat serangga atau ikan beracun
· Alasan lainnya: tindakan yang mengakibatkan cedera tidak tercakup dalam satu dari kelompok di atas. Dalam hal ini, responden harus memperlihatkan keterangan cara luka tersebut terjadi.
· Tidak diketahui: tidak ada informasi yang tersedia perihal bagaimana cedera itu terjadinya.
Undang-Undang dan Kebijakan perihal Kecelakaan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan ketentuan perundangan dan mempunyai landasan aturan yang wajib dipatuhi semua pihak, baik pekerja, pengusaha atau pihak yang terkait lainnya. Ada beberapa peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, beberapa diantaranya :
a.Undang-Undang No. 1 tahun 1970 perihal Keselamatan Kerja
b.Undang-Undang No. 13 tahun 2003 perihal Ketenagakerjaan
c.Undang-Undang No. 8 tahun 1998 perihal Perlindungan Konsumen
d.Undang-Undang No. 19 tahun 1999 perihal Jasa Konstruksi
e.Undang-Undang No. 28 tahun 2002 perihal Bangunan Gedung
f.Undang-Undang No. 28 tahun 2009 perihal Keteknikan Memuat Aspek Keselamatan
g.Undang-Undang No. 40 tahun 2004 perihal SJSN
Kebijakan merupakan roh dari sebuah sistem. Oleh lantaran itu, OHSAS 18001 mensyaratkan ditetapkannya kebijakan K3 dalam organisasi oleh administrasi puncak. Keberhasilan sistem tergantung pada janji dari semua tingkatan dan fungsi organisasi, terutama administrasi puncak. Kriteria kebijakan K3 yaitu sebagai berikut :
a.Sesuai dengan sifat dan skala resiko K3 organisasi
b.Mencakup janji untuk peningkatan berkelanjutan
c.Komitmen untuk memenuhi perundang-undangan K3 yang berlaku
d.Didokumentasikan, diimplimentasikan dan dipelihara
e.Dikomunikasikan kepada seluruh pekerja
f.Tersedia bagi pihak lain yang terkait
g.Ditinjau ulang secara bersiklus untuk memastikan bahwa masih relevan dan sesuai dengan organisasi.   
 Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Kerja


Tata cara pelaporan kecelakaan kerja  baik kecelakaan kerja di pabrik maupun kecelakaan kerja di perusahaan  diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja Dan Jaminan Kematian Pasal 43. Berikut mekanisme Pelaporan Kecelakaan Kerja yaitu yang diatur dalam PP tersebut tersebut :
a.Pemberi Kerja selain penyelenggara negara wajib melaporkan Kecelakaan Kerja atau penyakit jawaban kerja yang menimpa pekerja kepada BPJS Ketenagakerjaan dan instansi setempat yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan.
b.Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan laporan tahap I yang disampaikan dalam jangka waktu paling usang 2 x 24 jam semenjak terjadi Kecelakaan Kerja atau semenjak didiagnosis penyakit jawaban kerja dengan memakai formulir Kecelakaan Kerja tahap I yang telah ditetapkan.
c.Pemberi Kerja selain penyelenggara negara wajib melaporkan jawaban Kecelakaan Kerja atau penyakit jawaban kerja kepada BPJS Ketenagakerjaan dan instansi setempat yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan.
d.Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan laporan tahap II yang disampaikan dalam jangka waktu paling usang 2 x 24 jam semenjak Pekerja dinyatakan sembuh, Cacat, atau meninggal dunia berdasarkan surat keterangan dokter yang pertanda bahwa:
   i.  keadaan sementara tidak bisa bekerja telah berakhir;
   ii. Cacat total tetap untuk selamanya;
   iii Cacat sebagian anatomis;
   iv. Cacat sebagian fungsi; atau
   v.  meninggal dunia.
e.Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekaligus merupakan pengajuan manfaat JKK kepada BPJS Ketenagakerjaan dengan melampirkan persyaratan yang meliputi :
   i.  Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;
   ii. Kartu Tanda Penduduk;
   iii.Surat keterangan dokter yang memeriksa/merawat dan/atau dokter penasehat;
   iv. Kuitansi biaya pengangkutan;
  v.  Kuitansi biaya pengobatan dan/atau perawatan, bila akomodasi pelayanan kesehatan yang dipakai belum bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan; dan
   vi. Dokumen pendukung lainnya apabila diperlukan.
f.Apabila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) telah lengkap, BPJS Ketenagakerjaan menghitung dan membayar manfaat JKK kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
g. Apabila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) belum lengkap, BPJS Ketenagakerjaan memberitahukan kepada Pemberi Kerja selain penyelenggara negara paling usang 7 (tujuh) hari kerja semenjak laporan jawaban Kecelakaan Kerja atau penyakit jawaban kerja tahap II diterima.
h. Mekanisme pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) sanggup dilakukan baik secara manual dan/atau elektronik.
Statistik Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Indikator keselamatan dan kesehatan di kawasan kerja memperlihatkan kerangka kerja untuk menilai sejauh mana pekerja dilindungi dari ancaman dan risiko kerja. Statistik ini dipakai oleh perusahaan, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan kebijakan dan acara untuk pencegahan kecelakaan kerja, penyakit dan kematian serta untuk memantau pelaksanaan program-program ini dan untuk mengetahui sinyal tertentu yang meningkatkan risiko menyerupai pekerjaan, industri atau lokasi tertentu.  Adapun indikator dari statistik tersebut  yaitu sebagai berikut :
·Indikator hasil : jumlah kecelakaan kerja dan penyakit, jumlah pekerja yang terlibat dan hari kerja yang hilang
·Indikator kapasitas dan kemampuan: jumlah inspektur atau profesional kesehatan yang berafiliasi dengan keselamatan dan kesehatan kerja
·Indikator kegiatan: jumlah hari pelatihan, jumlah inspeksi
Frequency Rate (Tingkat Keseringan/kekerapan)
Menentukan tingkat keseringan kecelakaan kerja / insiden kerja per 1.000.000 (satu juta) jam kerja orang.
FR= (Total Kasus Kecelakaan Kerja/Total Jam Kerja Orang) X 1.000.000
Satu juta jam yaitu jumlah jam kerja dari 500 pekerja yang bekerja 40 jam seminggu dan 50 ahad pertahun

BACA JUGA:  Tugas Dokter Perusahaan
Incident Rate (Tingkat Kejadian)
Menentukan tingkat terjadinya kecelakaan kerja untuk tiap pekerja.
IR= (Total Kasus Kecelakaan Kerja/Jumlah pekerja) X 1000
Dapat dihitung secara terpisah untuk cedera fatal dan non-fatal.

Severity Rate (Tingkat Keparahan) 
Menentukan tingkat hari kerja yang hilang lantaran kecelakaan kerja / insiden kerja per 1.000.000 (satu juta) jam kerja orang.
SR= (Total Hari Kerja Hilang lantaran Kecelakaan Kerja/Total Jam Kerja Orang) X 1.000.000

Total Hari Kerja Hilang lantaran Kecelakaan Kerja meliputi :
§  Semua hari kalender (penuh) dimana korban tidak masuk kerja lantaran keparahan cedera termasuk hari libur resmi ataupun hari libur kerja (day off). Hari tersebut tidak termasuk hari korban menerima cedera dan hari ia kembali kerja
§  Jumlah hari yang dibebankan lantaran tingkat keparahan.
Contoh perhitungan contohnya amputasi seluruh ibu jari dibebankan 300 Hari Kerja Hilang, kehilangan fungsi satu mata dibebankan 1800 Hari Kerja Hilang, kehilangan fungsi satu pendengaran (kehilangan pendengaran jawaban kerja) dibebankan 600 Hari Kerja Hilang. Perhitungan selengkapnya terlampir pada tabel di Lampiran IV
Average Time Lost Rate (Rata-rata Hilang Hari Kerja lantaran Kecelakaan Kerja)
Median atau rata-rata jumlah hari hilang untuk setiap kasus gres dari kecelakaan kerja selama periode referensi.
ATLR = (Total Hari Hilang lantaran Kecelakaan Kerja/Total Kasus Kecelakaan Kerja)

Safe-T Score (Nilai Keselamatan Kerja)
Menunjukkan tingkat perubahan (peningkatan/perubahan) kinerja K3 yang berkaitan dengan kecelakaan kerja / insiden kerja.
Safe-T Score = (FR(n) – FR(n-1))/FR (n-1)

Keterangan:

  1. FR(n) = Nilai FR dikala ini.
  2. FR(n-1) = Nilai FR waktu yang lalu.
  3. STS antara +2,00 dan -2,00 tidak memperlihatkan perubahan berarti.
  4. STS diatas +2,00 memperlihatkan keadaan memburuk.
  5. STS dibawah -2,00 memperlihatkan keadaan yang membaik.
BACA JUGA:  Fungsi Cek Darah Lengkap Untuk Mengetahui Penyakit Anda