Microsoft Diprotes Soal Kolaborasi Dengan Tubuh Imigran Amerika

0
19

Foto: Reuters/Mike SegarFoto: Reuters/Mike Segar

Jakarta – Lebih dari 100 pegawai Microsoft menandatangani surat terbuka yang memprotes kolaborasi Microsoft dengan Immigration and Custom Enforcement (ICE). Surat terbuka yang dialamatkan ke CEO Microsoft Satya Nadella ini, meminta Microsoft untuk menghentikan kolaborasi tersebut.

ICE sendiri yaitu tubuh imigrasi Amerika Serikat yang belakangan menjadi sorotan dikarenakan telah memisahkan keluarga imigran yang melintasi perbatasan AS-Meksiko secara ilegal. Pemisahan ini menurut kebijakan ‘zero tolerance’ yang ditetapkan presiden Donald Trump.s

“Kami percaya bahwa Microsoft harus mengambil posisi yang etis dan menempatkan bawah umur dan keluarga di atas keuntungan,” tulis surat tersebut, menyerupai dikutip detikINET dari CNET, Rabu (20/6/2018). Surat terbuka ini juga menjelaskan bahwa Microsoft mempunyai kontrak kerjasama senilai USD 19 juta (268 miliar Rupiah) untuk menyediakan penyimpanan cloud dan layanan kecerdasan buatan (AI).


“Sebagai orang-orang yang membangun teknologi yang memberi laba bagi Microsoft, kami menolak untuk terlibat. Kami yaitu bab dari pergerakan yang terus berkembang, terdiri dari banyak kalangan industri yang menyadari tanggung jawab besar bahwa mereka yang membangun teknologi canggih harus memastikan apa yang mereka bangkit dipakai untuk kebaikan, bukan untuk mencelakai,” lanjut isi surat tersebut.

Microsoft sendiri belum merespon surat terbuka tersebut. Namun pada awal pekan ini, Microsoft menyatakan kekecewaannya terhadap tindakan ICE dan meminta pemerintah mengubah kebijakannya. Microsoft juga membela diri dengan menyampaikan bahwa layanannya tidak dipakai untuk membantu ICE dalam memisahkan keluarga imigran di perbatasan.


“Microsoft tidak bekerja dengan US Immigration and Customs Enforcement atau USD Customs and Border Protection dalam proyek yang terkait dengan memisahkan bawah umur dari keluarganya di perbatasan, dan bertentangan dengan spekulasi, kami tidak tahu bahwa Azure atau layanan Azure dipakai untuk tujuan ini,” kata Microsoft dalam pernyataannya.

BACA JUGA:  Google AI Katanya Bisa Prediksi Waktu Kematian Seseorang

Selain Microsoft, bos-bos Silicon Valley lainnya juga sudah terang-terangan menentang kebijakan pemerintah AS ini. CEO Apple, Tim Cook menyebut bahwa kebijakan ini tidak manusiawi, sedangkan CEO Uber Dara Khosrowshahi yang seorang imigran menyebut kebijakan ini tidak bermoral.


Sumber detik.com